Semalam aku mendapat kabar, bahwa lelakimu pergi dengan wanita lain beberapa hari yang lalu. Lantas gegas mendatangi, sembari mengingat saat kau dulu meninggalkanku. Pastinya dia melenggang tak hirau padamu yang mati-matian menyayangi sebelumnya. Mau minum Potas, Baygon, bodo amat—dan ia tetap pergi bersenang-senang di atas penderitaan kekasih yang ditinggalkan. Ah, kenapa bisa sama seperti saat kau meninggalkanku dulu?
Dulu, sempat terpikir untuk bijak mengatakan: perjalanan cinta itu seperti jalan berliku, siapa yang tahu bila akan tersesat? Aku menganggap dirimu telah menemukan jalan yang benar dengan menemukan laki-laki itu, sedangkan diriku sedang tersesat memilih dirimu. Sayang, ternyata tersesat untuk tetap mencintaimu memang jauh lebih menyenangkan.
Sedangkan untuk saat ini, tidak mungkin aku mengatakan bahwa nasib terkadang kurang ajar kepada kita. Tuhan membalas perlakuanmu padaku dulu, bahkan sama persis. Karma? Sementara masih belum bisa aku meyakini yang satu ini. Hanya nasib yang tidak elok untuk dikatakan 'kurang ajar', meski dalam hati terus saja mengatakannya.
Mengapa harus sama persis? Kau duduk pada pot besar berisi puluhan kaktus mini warna-warni yang berada di pelataran rumah, pada tiap malam yang menawarkan gigil ngilu. Menelungkupkan wajah pada lutut saat kaki terlipat erat menahan dinginnya angin malam. Tidak peduli jika satu-dua pengendara berhenti untuk memastikanmu baik-baik saja. Aku dulu juga begitu. Di sudut pot kaktus yang sama, saat rumah itu masih menjadi milik kita berdua.
Mungkin ini menjadi sesuatu yang adil bagiku, namun tak mungkin kau mengamininya. Ingin rasanya segera menghampiri, tapi aku tak tahu bagaimana cara memulainya.
Tiba-tiba mendekat dengan mimik mengiba, sembari menempatkan tangan di bahumu, dan berkata, "Aku turut bersedih atas kejadian yang menimpamu"—ah, terlalu bijak dan berjarak. Seolah aku ini tetangga baik hati yang seumuran bapakmu. Tidak. Bagaimanapun aku orang yang pernah dekat sekali, meski naif disebut sebagai 'mantan'.
Bagaimana bila datang dengan sepotong senja, layaknya pujangga? Ya... ya... bagaimanapun aku harus menyadari bahwa diri ini hanya seorang 'mantan' yang sedang ingin tersesat sekali lagi.
Atau datang, diam di sampingmu, menunggu sampai kau mau berbicara padaku? Mungkin saja. Tapi dulu, saat aku berada di situasimu saat ini, tidak berharap siapapun berada di sampingku, kecuali dirimu. Bagaimana jika kau juga berpikir seperti itu saat ini? Hanya berharap kepada lelakimu, bukan 'mantan'mu atau yang lain.
Ah, terkadang pilihan memang terlalu banyak dan sulit untuk dipilih. Meski tidak memilih juga bisa menjadi pilihan terbaik. Tapi kau, apakah masih menikmati ketersesan itu seperti diriku? Sehingga tak ada yang mudah.
Lantas, harus dari mana aku memulai sesat yang nikmat ini?
Malang, —
