Bening mata dan senyum cantik yang biasanya rekah, kini tak tampak lagi.
"Boleh?"
Pertanyaan yang berulang dilontarkan saat bertemu ibunya. Tiga hari sudah, namun ia tak menyerah. Dan sepertinya siang ini membuahkan hasil.
"Ini yang terakhir!" jawab ibunya.
Menik riang bukan kepalang. Siang ini ia mendapatkan buku baru lagi. Namun di sisi lain ia khawatir dengan kata 'terakhir'. Itu berarti ia harus belajar untuk tidak menuliskan semua isi kepalanya. Ya. Setidaknya masih ada 50 lembar bolak-balik untuk membiasakan diri. Dan ketika sampai di lembar terakhir, ia berharap telah terbiasa untuk tidak menulis.
"Apa yang kau tuliskan, sehingga butuh berpuluh-puluh buku kau habiskan hanya dalam satu minggu?" tanya Ibu sembari memberinya buku tulis baru.
"Aku menuliskan hal-hal buruk yang terjadi dalam keseharianku. Teman-teman yang buruk. Saudara yang buruk. Guru-guru yang buruk. Dan orang tua yang buruk," jawabnya polos.
Ibu terdiam.
Pergi.
***
Beberapa hari setelahnya, Menik terbangun dalam keadaan benar-benar sendiri. Tidak ada siapa pun di rumah. Itu berarti ia tak ke sekolah hari ini. Tidak bertemu teman-teman, saudara, guru, dan orang tua yang buruk. Keadaan ini membuatnya berhenti menulis. Karena memang tidak ada yang perlu ditulis. Hingga dua minggu berlalu, Menik belum juga menulis.
Kali ini ia termangu di depan meja belajarnya. Lengkap dengan bolpoin merah yang di dapat dari kamar ibu, buku, dan posisi bersiap menulis. Tampak canggung. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mengalir juga tangan itu.
"Ibu. Pulang. Bawakan aku buku yang lain. Yang benar-benar putih bersih tanpa garis di dalamnya. Akan aku tuliskan di sana, beribu kata maaf untuk mereka yang telah pernah kutuang dalam buku harian sebelumnya. Aku tahu. Aku sadar. Aku lebih buruk dari mereka semua, termasuk Ibu. Maaf. Sekali lagi, maaf."
Semenjak itu Menik tak pernah kembali lagi. Rumah sepi. Tak ada yang menghuni. Hanya ditunggui catatan buruk, dan permintaan maaf yang belum sempat terwujud.
Malang, -
.jpg)