Jangan lupa untuk meninggalkan komen dan share ke teman-teman kalian, ya!

CERPEN | Lelaki yang Tidak Menulis Lagi

Terbangun di pagi hari yang tanpa rokok, kopi, dan gosok gigi, adalah hal yang baru-baru ini menjadi sebuah rutinitas bagiku. Kubuka jendela, menakjubi pendar cahaya pagi di taman-taman dan lapangan sepakbola. Ada keriangan yang kutangkap dan ingin kumiliki di sana. Berayun-ayun, berlarian, dan tertawa lepas tanpa kepedulian tentang apapun. Seorang bapak yang sedang menggandeng anaknya melintas di bawah sana, dan beliau melihat keberadaanku. Ia melambaikan tangan seolah akrab sekali, sedangkan si anak mencoba mencari tahu. Meski aku tak mendengar, namun gerak bibirnya tampak sekali mengatakan, "Siapa pria botak di jendela itu, Pak?" Aku tersenyum, mereka hirau, dan itu menyenangkan.

Perasaan hirau adalah satu-satunya hal yang menyenangkan dalam sepersekian sisa perjalanan hidup ini. Tak perlu bingkisan, senyum pura-pura, rasa iba, ujaran-ujaran simpatik, seabrek buku-buku impor, atau beberapa macam jenis topi yang kusuka. Aku tak butuh itu. Dulu, mungkin iya. Sebagai seorang penulis, tentunya mereka hirau. Bahkan beberapa sebegitu loyalnya. Karena aku menulis dengan baik. Hanya itu. Mereka tidak melihat aku sebagaimana adanya manusia biasa yang jauh dari segala hiruk pikuk keberadaban. Lelaki yang sibuk menghabiskan beberapa 'pack' rokok dan sebotol Vodka tiap harinya. Lelaki yang biasa saja tanpa lakon-lakon ciptaannya. Lelaki yang memiliki tatoo buruk di punggungnya. Dan masih banyak hal biasa lainnya.

Ketika aku memutuskan tak lagi menulis, tampaklah kesendirian, kesunyian, dan kesepian yang sebenarnya. Tidak ada lagi yang hirau. Aku sebagai aku saja tanpa menulis. Seperti sebotol Vodka yang telah tereguk habis. Biasanya anak-anak "kemarin sore" akan memajang botol ini sederet dengan botol minuman lainnya pada rak kamar, berjajar dengan koleksi senjata tajam atau koleksi kaset pita. Sedangkan para peminum yang sudah berpengalaman hanya akan menyimpan di gudang, dan jika telah terkumpul banyak, mereka akan menjualnya di 'rombengan'. Lumayan, bisa buat beli minuman lagi. Begitulah seorang penulis yang tak lagi menulis, apa lagi yang diharapkan orang lain padanya? Dirinya? Tidak. Aku paham sekali tentang ini.

Hari-hariku kini hanya melipat kertas dari buku-buku lama yang kusobek sekenanya, dan kemudian melipat menjadi sebentuk Angsa. Tepat di tengah-tengah kulubangi dan kuberi tali, lantas kugantung di langit-langit kamar. Masih tiga puluh lipatan Angsa. Itu berarti aku punya 60 waktu dan lembar buku yang bisa kulipat setiap harinya.

Selain melipat kertas menjadi Angsa, sesekali kucoba bereksperimen dengan baju-baju yang ada di lemari. Entah menyobek lengannya, atau menyambung separuh kemeja dengan separuh kaos oblong, atau bahkan menggandeng penuh kaos Polo dengan Boxer. Ini lucu sekali saat kukenakan. Sebisa mungkin tidak kuluangkan waktu untuk tanpa beraktifitas. Karena sekali saja aku lengah, maka segala ingatan akan mendentami kepala dengan hebat. Jarum-jarum 'euforia' kemegahan masa lampau akan seketika itu juga bertabur menancapi punggungku. Sakihmau.

Sesekali aku memperbolehkan diriku melamun. Tentang orang-orang yang datang menemuiku dengan keriangan pada binar matanya, sembari mematahkan sebatang coklat atau 'wafer' untuk diberikan kepadaku. Mereka yang benar-benar datang bukan karena kekaguman atau malah perasaan iba. Namun dengan segenap dirinya untuk menemuiku sebagaimana menemui sahabat-sahabat mereka. Tidak peduli apakah aku masih menulis atau tidak. Memandangku sebagai manusia biasa, yang tubuhnya kini semakin kurus, wajahnya tirus, dan rambutnya telah habis. Namun sayang lamunan itu tidak pernah bertahan lama. Bayang masa lalu selalu lebih tanggap untuk menyergap. Tentang perasaan antusias dan fanatis terhadap aku yang penulis dulu. Histeria pada karya-karya yang pernah memenangi beberapa penghargaan, serta perbincangan tak usai pada tulisanku yang entah katanya menarik itu. Ya. Tulisanku. Bukan aku. Sekali lagi, aku paham benar hukum ini.

Pada satu hari lipatan Angsa yang menggantung telah mencapai 90 buah. Itu berarti tugasku telah usai. Sebelumnya, ketika aku masih mampu berdiri, kubuat dentang doa pada dinding-dinding kamar yang telah kupoles dengan  banyak warna ceria. Merah, kuning, hijau, biru, oranye, dan sedikit sembur abu-abu pada bagian tengahnya. Aku menuliskan keriangan yang nyata pada sembur itu. Tentang hangat pelukan Ibu. Tentang gigi yang tak utuh terlihat pada saat sahabat-sahabat kecilku terbahak. Gigi yang selalu kuingat warna karang kecoklatannya. Mungkin karena mereka terlalu banyak makan yang manis, sehingga giginya tak bisa utuh sepertiku yang sarapan pagi dengan tangis, amis, dan kisah-kisah tragis lainnya. Di dinding yang lain aku juga menuliskan keriangan tentang bapak teman-temanku. Yang setiap liburan pasti ikut bermain di lapangan sepakbola, berguling di taman, dan terbahak bersama layaknya bocah-bocah. Aku juga berfikir memasang cermin di jendela yang bisa memantulkan bayang taman dan lapangan sepakbola. Setidaknya jika tak mampu mencapai jendela lagi, aku masih bisa melihat sosok-sosok yang hirau padaku pada pantulan tersebut. Semua sudah aku persiapkan dengan baik. Bahkan lamunan tentang seseorang yang mengetuk pintu dengan sebatang coklat atau 'wafer' untuk kita patahkan dan makan bersama itu, juga telah aku persiapkan dengan cara tidak mengunci pintu kamar. Agar dia bisa masuk kapan saja, sesuka hatinya.

Ya, hari ini aku merasakan dingin yang merayap perlahan dari ujung kaki. Seketika itu pula kupanjatkan, maka denting doa mendentang sepanjang waktu pada dinding-dinding kamar, sekaligus menggoyang lipatan Angsa yang menggantung. Hal ini akan menemani tidur panjangku, dan entah siapa esok yang pertama kali menemukanku --lelaki yang tidak menulis lagi.

Malang, -

Post a Comment

Ratakiri Selamat datang di Whatsapp chat
Halo, apa kabar?
Klik di sini ...