Jangan lupa untuk meninggalkan komen dan share ke teman-teman kalian, ya!

CATATAN | Logika Justru Membuat Kita Bodoh

 

Ada satu pepatah Jerman yang nggak pernah lepas dari kepala saya: "Der Mensch ist, was er isst" yang artinya kurang lebih "sikap manusia sepadan dengan caranya ia mendapat makan". Bukan soal apa yang dimakan, tapi bagaimana cara mendapatkannya.

Menarik, kan? Karena selama ini kita (termasuk saya) terlalu fokus ke hasil. Apa yang dimakan, bukan bagaimana prosesnya. Kita terlalu sibuk mikirin sebab-akibat yang linear: 

Kalau A maka B, kalau bukan A maka bukan B. Sesederhana itu. Yang sering kita lupakan adalah perjalanan menuju hasil itu sendiri.

Pernah nggak ketemu orang yang jabatannya tinggi tapi kelakuannya... yah gitu deh? Nggak becus manfaatin posisinya buat kepentingan banyak orang. Terus kita langsung menyimpulkan: "Ah, maklum jabatan hasil nyogok" atau "Pasti ngatok nih orangnya." Ya. Kita cuma fokus ke hasilnya (jabatan) tanpa pernah bertanya: kenapa mereka sampai harus nyogok atau ngatok?

Bisa jadi karena memang itu satu-satunya pintu yang terbuka buat mereka. Dan ketika jalan yang ditempuh nggak bersih, ya wajar aja kalau kemudian mereka jadi nggak amanah. Soalnya dari awal prosesnya udah salah. Pepatah Jerman tadi bener banget: cara kita mendapat sesuatu akan membentuk sikap kita terhadap sesuatu itu.

Kita terlalu percaya sama logika modus tollens-ponens: 

Jika p = q, maka p adalah q. Jika bukan p, maka bukan q. Contoh gampangnya? Semua orang sepakat: 1 + 1 = 2. Tapi hampir nggak ada yang mikir kalau hasil 2 itu bisa didapat dari 4 ÷ 2, atau (4 × 5) ÷ 10, atau ratusan kombinasi lainnya. 

Ada banyak jalan menuju satu hasil, tapi kita seringkali cuma lihat satu jalan aja.

Atau misalnya kita selalu bilang: orang sehat pasti konsumsi vitamin cukup, kalau nggak konsumsi vitamin ya nggak sehat. Orang cerdas pasti banyak baca buku berbobot, kalau nggak baca ya nggak cerdas. Bahkan pemerintah Indonesia pun mikir gitu. Makanya muncul program makanan bergizi gratis buat ningkatin kualitas pendidikan. Seolah-olah kalau asupan makanannya nggak bergizi, jangan harap generasi muda bisa jadi generasi emas.

Saya nggak bilang program itu salah total, tapi kan ada yang kurang. Kita lupa bahwa ada cara berpikir lain yang lebih fleksibel, yang saya sebut berpikir eksploratif. Di sini, logika bukan lagi yang utama. Kita nggak terjebak sama pola sebab-akibat yang kaku. Bentuknya kayak gini: 

Jika p & q, belum tentu p adalah q, dan q belum tentu p. Jika bukan p, bisa jadi q. Jika bukan q, mungkin saja p. Lebih banyak kemungkinan. Lebih terbuka. Lebih manusiawi.

Nah, bentuk eksplorasi inilah yang kita sebut proses. Sebelum dapet hasil, ada fase ini yang harus dilewati. Dan supaya bisa mengeksplorasi dengan baik, kita perlu latihan. Kita butuh muscle eksplorasi yang kuat. Masalahnya, gimana kita bisa sadar untuk melatih muscle eksplorasi kalau dari awal kita nggak anggap proses itu penting?

Makanya saya percaya: cara mendapatkan makan jauh lebih penting daripada makanannya itu sendiri. Kalian pasti ngerasain, makanan terasa lebih spesial kalau kita harus berjuang dulu untuk mendapatkan itu? Entah masak sendiri dengan susah payah, atau nabung lama buat beli makanan favorit. Rasanya beda. Begitu juga dengan tubuh sehat. Proses menuju tubuh ideal sepertihalnya olahraga rutin, jaga pola makan, istirahat cukup, justru yang bikin kita punya mental dan kebiasaan baik. Bukan cuma soal angka di timbangan.

Dan soal Indonesia Emas? Menurut saya, nggak perlu gonta-ganti kurikulum terus, nggak perlu cuma fokus ke makanan bergizi gratis, atau naikin gaji guru sampai 500%—yang bahkan kalau dinaikkan segitu juga belum tentu beres masalahnya. Yang perlu difokuskan adalah prosesnya: bagaimana membangun mentalitas dan budaya yang baik. Kalau prosesnya bener, kualitas pendidikan akan meningkat dengan sendirinya.

Kalau kita sadar sepenuhnya bahwa proses adalah fase wajib sebelum mencapai hasil, maka kita nggak perlu nunggu sampai 2030 buat mencapai generasi emas. Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah Jerman tadi: bukan cuma soal apa yang kita makan, tapi bagaimana kita mendapatkannya. Dan itu yang membentuk siapa kita sebenarnya.

Malang, -

Post a Comment

Ratakiri Selamat datang di Whatsapp chat
Halo, apa kabar?
Klik di sini ...