Penulis-penulis besar hampir selalu menggunakan red herring—umpan palsu yang sengaja ditebar untuk mengalihkan perhatian pembaca dari ending yang terduga. Red herring itu semacam seni tersendiri, seolah mengatakan kepada pembaca "Saya akan membuat kamu salah menduga endingnya, tapi bukan karena saya berbohong—melainkan karena kamu memilih untuk percaya pada umpan-umpan yang saya berikan."
Istilah "red herring" sendiri konon berasal dari praktik berburu rubah di Inggris, di mana ikan haring merah—yang baunya sangat menyengat—digunakan untuk melatih anjing pemburu agar tidak mudah terdistraksi. Dalam sebuah cerita atau narasi, red herring berfungsi persis seperti itu: sesuatu yang menyengat, yang menarik perhatian, yang membuat kita melupakan hal-hal yang sebenarnya sudah ada di depan mata.
Yang membuat red herring menarik adalah bahwa ia harus cukup meyakinkan. Tidak bisa hanya sekadar detail acak yang dilempar begitu saja. Red herring yang efektif punya logikanya sendiri, punya alasannya sendiri untuk ada dalam cerita. Ia harus terasa penting pada saat pembaca mengikutinya. Barulah di akhir, ketika kebenaran terungkap, pembaca baru menyadari bahwa mereka telah mengikuti jejak atau umpan yang salah—bukan karena penulis curang, tapi karena jejak itu memang dirancang untuk mengelabui pembaca agar salah dalam menebak endingnya.
Agatha Christie adalah master dalam hal ini. Dalam And Then There Were None, sepuluh orang terdampar di sebuah pulau dan satu per satu mereka mati mengikuti pola sajak anak-anak yang mengerikan.
Dalam novel tersebut, Agatha Christie memberi kita begitu banyak tersangka—masing-masing dengan motif, masing-masing dengan kesempatan. Setiap kematian seperti menghilangkan satu tersangka, tapi juga menambah kecurigaan pada yang masih hidup. Pembaca mengikuti petunjuk-petunjuk yang sengaja penulis sebarkan: siapa yang ada di mana ketika pembunuhan terjadi? Siapa yang punya akses ke senjata? Semua itu adalah red herring yang keren.
Di akhir, ternyata hakim yang sudah "mati" lebih dulu masih hidup dan dia yang merencanakan semuanya. Dan ketika kita membaca ulang, kita baru sadar betapa jeniusnya Agatha Christie—setiap petunjuk yang kita ikuti memang benar dalam konteksnya sendiri, tapi bukan kebenaran yang utuh.
Di Indonesia, Eka Kurniawan menggunakan red herring dengan cara yang berbeda. Dalam Cantik Itu Luka, dia membanjiri kita dengan subplot dan karakter-karakter sampingan yang begitu kaya sehingga kita lupa pada benang merah utama.
Kita berpikir bahwa kisah cinta Dewi Ayu adalah inti cerita. Kita berpikir bahwa kutukan kecantikan Cantik adalah klimaks yang akan datang. Semua itu adalah red herring dalam skala yang luar biasa keren.
Eka membuat kita tersesat dalam labirin ceritanya—tapi bukan tersesat dalam arti negatif. Dan di akhir, ketika semua benang itu ditarik kembali ke tema utama tentang trauma historis dan siklus kekerasan, kita baru sadar bahwa Eka tidak pernah benar-benar menyesatkan kita—dia hanya memberi kita terlalu banyak hal untuk dilihat sehingga kita tidak tahu harus fokus ke mana.
Dalam praktik menulis, saya menemukan bahwa red herring yang efektif harus punya tiga kualitas.
- Pertama, ia harus relevan—tidak bisa hanya dilempar begitu saja tanpa alasan. Red herring yang baik adalah bagian organik dari cerita.
- Kedua, ia harus cukup kuat. Red herring yang lemah akan langsung ditebak pembaca sebagai pengalih perhatian.
- Ketiga, ia harus memang ada atau terhubung. Artinya, ketika kebenaran terungkap, pembaca harus bisa melihat ke belakang dan mengerti mengapa mereka tersesat—bukan karena penulis berbohong atau menyembunyikan informasi penting, tapi karena mereka sendiri yang memilih untuk mengikuti jejak yang lebih mencolok.
Yang perlu diingat adalah bahwa red herring bukan tentang menipu pembaca dalam arti negatif. Ini tentang memberi pembaca pengalaman yang lebih kaya, lebih berlapis. Ketika pembaca mengikuti jejak palsu dan kemudian menyadari kesalahannya, mereka tidak seharusnya merasa dikhianati—mereka seharusnya merasa kagum pada cara penulis mengonstruksi narasi. Mereka seharusnya ingin membaca ulang untuk melihat bagaimana mereka bisa terlewatkan.
Saya juga menemukan bahwa red herring bekerja paling baik ketika ia memanfaatkan bias dan asumsi pembaca. Kita semua punya ekspektasi tertentu tentang bagaimana cerita seharusnya berjalan—siapa yang biasanya menjadi penjahat, apa yang biasanya menjadi motif. Penulis yang cerdas tahu bagaimana memanfaatkan ekspektasi ini. Mereka memberi kita persis apa yang kita harapkan untuk kita lihat—dan sementara kita sibuk mengonfirmasi bias kita sendiri, mereka diam-diam membangun kebenaran yang berbeda di tempat lain.
Alfred Hitchcock, dalam Psycho, membuat kita berpikir bahwa Marion Crane dan uang yang dia curi adalah inti cerita—padahal Marion mati di pertengahan film dan cerita yang sebenarnya adalah tentang Norman Bates dan ibunya.
Hitchcock bahkan membuat kita fokus pada karakter detektif yang mencari Marion—padahal dia juga mati. Semua itu adalah red herring yang sangat berani karena Hitchcock tidak takut untuk mengkhianati ekspektasi naratif kita yang paling mendasar.
Ada risiko, tentu saja, dalam menggunakan red herring. Risiko terbesar adalah bahwa pembaca merasa terkhianati—merasa bahwa mereka telah membuang waktu mengikuti jejak yang tidak ada artinya. Untuk menghindari ini, penulis harus memastikan bahwa bahkan umpan palsu pun punya nilai dalam dirinya sendiri. Bahwa proses mengikuti red herring itu menyenangkan, mencerahkan, atau setidaknya menghibur.
Saya masih terus belajar bagaimana menggunakan red herring dengan lebih efektif. Setiap kali saya membaca novel misteri yang baik, setiap kali saya menonton film thriller yang cerdas, saya mencoba membedah bagaimana penulis atau sutradara menanam umpan palsu mereka. Di mana mereka meletakkannya? Bagaimana mereka membuatnya tampak penting? Dan yang paling penting: bagaimana mereka membuatnya terasa tidak mengada-ada?
Malang, -
Karena pada akhirnya, red herring yang baik bukan tentang menipu pembaca. Ia tentang mengajak pembaca bermain dalam permainan yang adil, di mana aturannya jelas bahkan jika jalannya berliku. Ia tentang menghormati kecerdasan pembaca sambil tetap mengejutkan mereka. Dan ketika itu berhasil—ketika pembaca menutup buku dan berkata, "Aku tidak melihat itu datang, tapi semuanya masuk akal"—di situlah red herring mencapai kesempurnaannya.
