80% orang-orang yang mengunjungi tempat ini, pernah populer. Dan sesungguhnya aku mengenal sebagian besar dari mereka. Namun, sebongkah ego mencegahku untuk kagum, pun mengharuskan untuk berpura-pura tidak mengenal.
Dia yang memulai dengan pertanyaan jamak—"dulu populer di bidang apa?"—tersebut adalah seorang sastrawan kondang. Terjatuh akibat syahwatnya sendiri. Diam-diam menghamili seseorang tanpa melewati ikrar yang sah. Wajahnya segar, tak seperti terakhir kali kulihat di media massa dengan judul seram tentang tuntutan pertanggung-jawaban gadis muda terhadap perbuatan cabulnya.
“Novelis,” jawabku tanpa berani menatap matanya.
“Sebentar, kalau aku boleh menebak. Pasti kau terjatuh. Bukan seperti yang berambut merah di ujung sana. Dia stres karena tidak siap mereguk popularitas.”
Bush! Segumpal asap menerpa wajah. Terkekeh hingga tak mampu mengontrol kepulan asap, hingga membaur kemana-mana saat menunjuk pria berambut merah di sudut yang lain. Dia, yang berambut merah; aku juga mengenalnya. Seorang aktor hebat, beberapa kali menggondol penghargaan, kemudian menghilang.
Percakapan di antara kami semakin melebar, tidak berkutat pada popularitas dan kejatuhan. Memecah tawa bersama, berbagi rokok, berulang memesan kopi dan gorengan. Hingga tak terasa jika senja telah merapat, dan badan sudah terasa gatal karena keringat. Kondisi ini mengundang nyamuk untuk berpesta pora di atas kepala kami. Dia berdiri, mengakhiri, dan kemudian berpesan padaku untuk menemui pemilik kedai di belakang. Sebelum mencapai pintu keluar, menoleh kembali padaku, memberikan isyarat bahwa kopi dan semua gorengan yang kulahap telah dibayarkan olehnya
***
Kundalini. Seorang sahabat menyebut nama sebuah kedai yang baru saja kukenali. Tempat di mana sebagian besar pengunjung adalah orang-orang yang pernah populer pada masanya. Mereka yang terjatuh secara tiba-tiba dari puncak ketenaran, dengan berbagai sebab. Yang jelas, di kedai ini mereka mampu mereguk kembali hangatnya cinta di antara sesama.
Rapuh. Kesan yang pertama kali menyembul dalam benakku. Pohon pinus menjulang di sekitarnya, seolah menegaskan ketidakberdayaan kedai yang telah renta itu. Beberapa simpul anyaman bambu terlihat menyembul keluar dari tatanan yang seharusnya. Genting pada pangkal paling bawah tidak berjajar rapi, sebagian malah tidak ada. Namun, siapa sangka, di dalamnya terdapat seribu kehangatan untuk para pendatang. Untuk mereka yang sedang membenci rasa cintanya.
Jauh sebelumnya. Pada masa itu. Saat bukan hanya waktu, tenaga dan pikiran yang aku korbankan. Istri dan anak semata wayang pun harus rela bersabar mengeram keinginan. Bersusah payah dalam mengarungi bahtera yang aku nahkodai. Untuk satu cinta pada sekumpulan aksara, yang telah aku yakini pada saatnya nanti akan membalas cintaku. Tentunya dengan segala pemenuhan kebutuhan kami, sekeluarga.
Sayang, istri tercinta tak sempat mencicipi hasil dari keyakinanku tersebut. Dia berpulang, karena rasa sakit di ulu hatinya. Mungkin terlalu lama memendam hasrat untuk menikmati uang mahar yang masih terpakai suaminya. Ya, pada satu waktu memang telah terjadi kesepakatan di antara kami. Separuh untuk kebutuhan hidup selama hampir 3 tahun, sedangkan separuhnya yang lain aku pergunakan untuk meraih angan-memupuk cita-mengulum cinta pada aksara.
Jati, anakku semata wayang. Hanya dia yang bersanding kala penghargaan di bidang kesusastraan diberikan. Kami bangga, dan bahagia. Semua karena cinta dan cita yang telah terpatri cukup dalam. Royalti penjualan novel terus mengalir. Undangan-undangan memberi materi dan workshop telah mengantri. Belum lagi tawaran acara Talk Show di televisi. Ya, kebutuhan sehari-hari telah terpenuhi, bahkan untuk dua sampai tiga tahun kemudian. Uang mahar yang sempat kupinjam dari istriku-pun telah kembali utuh.
Hari demi hari, cukup layak dinikmati. Tak seperti dulu yang dengan terpaksa kami anggap layak, sekedar untuk menenangkan dan menyenangkan hati. Memeluk penuh puing kesabaran, agar tetap terjaga pada satu keyakinan.
Jati mulai belajar menulis puisi. Entah darimana dia mendapatkan 'gen' puisi. Mungkin dari kakeknya. Yang jelas bukan dariku. Aku selalu bakhil dengan lini susastra yang satu ini. Tapi anakku semakin menyukainya. Setiap hari, selalu saja menggantungkan selembar kertas berisi bait-bait indah di pintu kamar. Semacam ucapan selamat pagi untuk bapaknya ini.
Seiring berjalannya waktu, beberapa kali puisinya dimuat di majalah anak. Berulang kali memenangi lomba membaca puisi. Entah mereka terpengaruh nama populer bapaknya, atau memang benar-benar cara menulis dan membaca puisinya memang layak di apresiasi. Aku tak peduli, jelasnya Jati kini juga mulai populer. Undangan Talk Show untuknya juga telah banyak. Senang rasanya mendapati kebanggaan seperti ini, namun ada ketakutan dalam diriku tentang Jati. Tentang masa kanak-kanak yang tersita, tentang kesehatannya, dan .... Di sisi lain, inilah cintanya. Seperti diriku yang cinta mati pada aksara.
Pada akhirnya terbukti juga ketakutan itu. Jadwal yang padat, mengirim Jati pada pembaringan. Awalnya aku mengira bahwa dirinya hanya mengalami kelelahan. Namun, diagnosa dokter mengatakan hal yang tak pernah terduga olehku sebelumnya. Leukimia! Tak ada yang bisa kuperbuat selain pasrah pada penanganan para penyelamat berseragam putih ini, sembari berdoa untuk kesembuhannya.
Berbulan-bulan dalam kesedihan yang tak pernah aku tampakkan pada anak semata wayang. Beberapa jadwal terpaksa kami 'cancel', karena lagi-lagi ada sebuah ketakutan dalam diri. Ketakutan tak mendapati kepergiannya. Ketakutan yang merajam dalam pikiran. Hingga tak ada kata lain, selain senyum yang harus bersanding kala Jati menatap wajahku.
Lalu, kira-kira 5 bulan yang lalu. Seseorang datang dengan santun. Menyodorkan sebuah 'project' tentang pembuatan sebuah buku, yang nantinya bisa menjadi pedoman pengetahuan dalam bidang kesusastraan bagi generasi penerus. Tanpa 'ba-bi-bu', aku langsung mengiyakan untuk bergabung di dalamnya. Karena bagiku, mencerdaskan generasi penerus adalah satu hal yang tidak perlu kita pikir sampai dua kali. Dan pastinya, ada nilai nominal menggiurkan yang ditawarkan oleh pria santun itu. Lumayan, untuk menambah biaya perawatan anakku. Karena persediaan telah sangat menipis. Entah memang panggilan hati untuk berkontribusi dalam mencerdaskan? atau sedang naif pada nilai nominal yang ditawarkan? Aku tak mampu membedakannya.
Segera melahap proposal, sesaat setelah dia pergi. Sepertinya .... Seperti ada yang salah dalam diriku.
***
Semenjak peluncuran buku bertajuk '33 Sastrawan Paling Berpengaruh', hanya tinggal dua orang sahabat yang masih mau mendengar segala keluh kesahku. Yang lain, lebih senang menenggelamkan. Seolah karya besar yang menjadikan namaku diperhitungkan dalam jagat susastra sebelumnya, hanyalah sampah kering yang akan hancur dengan sendirinya. Mereka tak mau tahu seperti apa kondisi dan sikap batinku saat itu. Yang mereka tahu, aku adalah bagian dari propaganda pencidera dunia sastra. Mencibir habis, merelakan ruang ciptanya untuk mendikte pembaca, menyebarkan larik-larik kebencian, pada sesuatu yang sebagian darinya adalah diriku. Diriku yang sebenar-benarnya.
Keadaan ini membuat anjlok penjualan Novel terbaru yang sangat aku harapkan hasilnya. Anjlok, bahkan bisa dikatakan tidak laku. Meleset dari perkiraan. Padahal, aku sangat butuh royalti penjualan selanjutnya. Sisa biaya pengobatan anak semata wayang, masih kurang banyak. Dia terbaring di rumah sakit hampir setahun.
…, akhirnya aku harus merawat, kemudian menguburkannya dengan tanganku sendiri. Dendam yang pekat menyeruak. Mereka, para pencibir masih saja tidak mau tahu.
Hari-hari terlewati dengan beberapa puntung rokok dan bergelas-gelas kopi. Setiap sangkal yang mengemuka dariku, entah di media massa atau jejaring sosial, tidak ada yang mendukung. Sebaliknya, menjadi bahan cemooh. Sebuah kebenaran yang tersampaikan, tidak lebih layak dari kentut bagi mereka. Aku, semakin terjerembab dalam palung ketiadaan.
“Kira-kira 25km dari pusat kota Malang. Tepatnya di Oro-oro Ombo, Batu. Atau lebih mudahnya, saat sampai di terminal Batu, kau sebut saja Kundalini.”
Kundalini? Langsung terbersit di kepalaku tentang sesuatu menyerupai seekor ular yang berada di antara Perineum. Semua manusia memilikinya. Dalam keadaan tidur, Kundalini berbentuk sebuah gulungan tiga setengah lingkaran di bawah tulang ekor. Saat bangkit, Kundalini akan merambat keatas melalui tulang ekor dan tulang punggung untuk mencapai puncak kepala (mahkota). Kundalini biasa juga disebut sebagai Dewi Ular karena bentuknya yang bergulung saat tidur dan kenaikannya yang tidak selalu lurus. Energi kundalini yang disimbolkan sebagai ular yang muncul dari ujung tulang ekor dalam literatur islam adalah simbol dari perwujudan setan. Dan ...
“Tak perlu kau berpikir tentang syariat. Ini hanyalah sebuah nama sebuah kedai,” seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan, dan kemudian berusaha sesegera mungkin menghentikannya.
Aku bergeming. Hingga satu waktu. Seorang sastrawan senior dituntut karena dianggap melakukan pencemaran nama baik. Entahlah, di mana kebenaran? Yang aku yakini, beliau sedang mengungkap sebuah kebenaran. Tentang peran seseorang dalam membujuk keempat penyair yang salah satunya adalah diriku, untuk ikut peran serta dalam propaganda sastra bertajuk '33 Sastrawan paling berpengaruh'.
Naas, tulisan beliau segera terhapus. Musnahlah harapanku
tentang sebuah kebenaran. Caci maki semakin merajalela, wajah dan tawa nyinyir
untukku semakin terasa pedih. Ada pembelokan opini, seolah aku berada pada
pihak yang menuntut penyair senior tersebut. Ah... maaf, aku tak kuasa lagi
menantang derasnya gelombang. Kundalini? Menyembul dalam ingatan.
***
Kundalini, sepagi ini, sengaja datang ke sini. Karena kemarin tak sempat bertemu dengan sosok yang telah direkomendasikan seorang sastrawan (yang pernah) kondang itu untuk menemui seseorang di sudut kedai paling buncit.
Wajahnya sesegar suasana pagi di pegunungan. Meski gerakan beliau lebih lambat dari kebanyakan pengunjung yang datang, namun terlihat tegas. Sesekali gores keriput di balik tangannya nampak berotot, kala menuangkan air mendidih ke dalam cangkir yang telah berisi bubuk kopi dan gula.
Senyum tipis mengembang kala mendapati diriku dari arah yang berbeda. Ya, aku tak menemuinya dari balik pintu kedai bagian dalam, melainkan langsung dari belakang. Tepatnya, berjalan turun dari jajaran pohon pinus yang menjulang. Karena semalam lebih memilih menapaki jalan setapak, menuju derasnya air terjun Coban Rais. Bermunajat dalam riuh riak muara air terjun, menyerahkan diri sepasrah mungkin, untuk berkeluh kesah pada Yang Maha Esa.
“Kantung matamu menyimpan keputus-asaan. Selamat datang, Nak!” sapa beliau dengan tangan kanan mengatup di dada. Hmm, satu sapa yang sangat hangat darinya.
Aku hanya tersenyum, dan kemudian memberikan tangan. Beliau menyambut dengan antusias, dan tak kusangka sebelumnya, sebuah peluk hangat persahabatan telah aku terima setelah itu. Seolah bertemu dengan sahabat lama, tak terasa banyak hal yang tersampaikan setelahnya. Meski beberapa kali beliau harus meninggalkanku beberapa kali untuk menghidangkan kopi bagi para pengunjung lainnya, aku tak merasa terganggu. Bahkan ada getar yang sama, seperti satu masa di mana dulu Bapak masih ada di setiap malam. Saat sebelum menghilang secara misterius, setelah menggelar pertunjukan Teater dengan naskah adaptasi dari karya George Orwel bertajuk Animal Farm.
Kehangatan dan sorot tajam mata dari beliau, mampu menghampar sosok Bapak dalam batin. Kata-kata santun selalu terucap dari bibirnya yang menghitam karena menahun menghisap rokok. Barisan gigi kuningnya masih terasa elok dengan balutan bait puitis. Ah, tak kuasa diriku membendung air mata yang semalam juga tumpah saat bertahajud.
Senja menua tiba-tiba. Beliau kali ini sedikit lebih lama meninggalkanku sendiri di sudut paling buncit. Membiarkan diri ini menggamit langit-langit yang telah menguning, sembari mengingat masa-masa indah dulu. Kemudian menyelami pekatnya cinta pada Jati, Ibunya, dan Aksara. Tiga hal yang kini masih kubenci untuk mencintainya. Ketiga hal yang kini telah menjadi caci dari mereka—sejawat sastra.
"Bapak, inikah yang kau rasa saat itu? Saat popor bedil merusak keningmu. Kepalan tangan memporak-porandakan barisan gigimu. Hanya untuk sebuah pengakuan, bahwa telah kau patri faham komunisme dalam otakmu. Hmm... Seandainya kau masih bertahan hingga mencapai masa ini, aku yakin, dengan lantang kau akan terbahak lepas. Karena seorang Presiden seumur jagung telah mencabut ketetapan itu. Membebaskan ideologi yang sejatinya adalah hak setiap warga negara. Kau bebas menggelar pentas apapun. Animal Farm boleh kau adaptasi dalam bentuk apapun sesuai suara hatimu yang selalu tak bisa berkompromi dengan pemerintahan otoriter. Bahkan naskah adaptasi The Good Women of Setzuan yang hampir rampung itu, atau adaptasi Waiting for Godot, pasti akan menjadi mahakarya terindah. Sayang, semua orang menganggapmu hilang secara misterius. Cara itu lebih baik bagi mereka, daripada nanti dianggap terlibat, dianggap se-ideologi," kenangku dalam hati.
“Seandainya pohon pinus ini mampu membakar dirinya sendiri, maka bertetaplah di sini. Sayangnya tidak, dan Kau harus segera masuk untuk menghangatkan diri.”
Beliau menegurku yang sedang asyik menikmati cahaya lampu kota yang berkelip jauh di bawah sana.
“Tuliskan satu cerita untukku, Nak,” Pinta beliau, dengan suara yang sangat berat. Sembari memberikan 2 lembar kertas dan pensil 2B yang telah runcing ujungnya.
“Ini jika ragu atau ada yang salah,” tambahnya, dengan sebuah penghapus di antara ujung telunjuk dan jempol.
Segera, kusambut tantangan beliau. Menuliskan satu sampai dua kalimat. Kemudian menghapusnya. Mencoba lagi memulai dengan cerita baru, kemudian menghapusnya lagi. Lagi … dan …, ternyata aku tak sanggup.
Serasa pening di kepala, mendapati keadaan seperti ini. Satu keadaan yang sangat tidak biasa. Berulang melemaskan jemari. Menggenggam cangkir kopi yang masih panas. Berharap pada rasa hangat. Menyalakan sebatang rokok, menghisap asapnya sedalam mungkin. Memompa sekumpulan aksara yang entah mengapa tak mau muncul. Hingga beberapa menit berlalu, masih tetap saja berkutat pada paragraf pertama yang kemudian terhapus.
“Sepertinya, aku harus menuliskannya di luar sana jika kau mengijinkan?” pintaku.
Berharap keluar dari intimidasi keberadaan beliau. Sorot mata dan sulur alis yang sebagian telah memutih, membuatku tak jenak dalam merangkai aksara. Belum lagi dendang lirih dari mulutnya, tentang sosok lacur seharga lima ribu rupiah. Mengganggu, serasa yinyir dalam balutan kemunafikan.
…,
Lihat, lihat merah bibir ini
Ingat, ingat harum tubuh ini
Lihat, lihat mulus paha ini
Ooo... Lima ribu Saja
Ayo, ayo bunuh dingin dengan
Kehangatan.
Lima ribu saja...
…,
Seolah menertawakan kebersediaanku untuk terlibat dalam proses penerbitan buku bertajuk '33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh'. Menertawakan nilai nominal yang tersodor kala itu. Menertawakan naif dalam diriku saat itu.
Heran, keadaan tidak berubah meski telah berada di luar tanpa intimidasi dari beliau. Lekat memejam mata, untuk mengambil sisa inspirasi yang masih tertinggal. Tetap saja, aksara tak mendendang di atas kertas. Masih saja berkutat pada satu atau dua kalimat, yang kemudian terhapus. Melintas wajah Jati, Ibunya, dan Novel perdanaku yang meledak hingga ratusan ribu copy. Melintas wajah-wajah sinis teman sejawat sastra yang mengumbar naifku. Semua berlalu begitu saja, hingga menggema suara adzan subuh yang saling bersahutan di bawah sana—Pada kerlip lampu kota.
Selalu seperti itu hingga berhari-hari. Sepertinya .... Seperti ada yang salah pada diriku.
***
“Masih ada dendam di hatimu, Nak. Relakan yang terjadi. Cintai yang telah sengaja kau benci saat ini. Karena mereka pada dasarnya tak pernah membencimu. Anak, Istri, dan Aksaramu. Begitu juga sejawat penulis yang lainnya. Sungguh, masih ada cinta di dalam hatinya. Yakinlah. Cintai yang memang tidak seharusnya kau benci. Ikuti kata hati. Tanpa bara api. Tanpa dendam yang menggelora. Mengalirlah....”
Beberapa kalimat terlontar begitu saja darinya. Tanpa permisi. Sedikit membuatku terkejut. Aku yang sedang menumpahkan amarah pada padas yang menahan curah air terjun coban Rais, tak menyadari kedatangan beliau.
“Seperti Kundalini. Dia akan menjadi ular yang sangat menakutkan jika tak terkendali saat membangkitkannya. Bukan lagi mencapai mahkota melalui tulang ekor dan tulang punggung. Melainkan akan mengalir dalam aliran darah. Menyeruak pada tiap simpul nadi. Hingga membuat pemiliknya tak sadarkan diri. Terkadang panas merambat pada sekujur tubuh. Dan masih banyak hal-hal tidak baik lainnya.”
Lagi, tanpa peduli atas apa yang sedang tersekat di tenggorokanku. Beliau memindai beberapa kalimat yang telah terpatri dalam otaknya.
“Cintai yang memang seharusnya kau cintai. Jangan ada benci di sini. Ingat, Nak. Hanya cinta yang telah bangkit dari ketiadaan, yang mampu menghangatkan kedai kami. Hanya ada cinta di Kundalini!”
Beliau mengakhirinya, lalu pergi dan tetap tanpa permisi.
Aku. Seketika penuh dalam kepala, tentang Kundalini. Merasakan kehangatannya. Memanggilnya yang sedang tertidur di Perineum. Membangkitkannya yang sedang dalam keadaan tiga setengah lingkaran. Dengan penuh kasih dan cinta, sebentuk ular itu terasa menyulur melalui tulang ekor, tulang punggung, menemukan mahkota. Ada kehangatan, sekaligus kesegaran kala memutuskan untuk mengakhiri sulurnya.
Segera mengemasi barang. Berlari menuju kedai. Melewati rerimbunan rumput liar, menikmati pinus yang berjajar menjulang tinggi. Jajaran Pinus yang kini lebih terpandang menguatkan Kundalini, daripada penglihatanku sebelumnya. Beliau terlihat sedang menatapi mentari pagi yang baru saja terbit sepenggalah. Aku berhenti, mengambil jarak. Mencari tempat terlandai. Merapal dan menggugah sekumpulan aksara yang terpendam cukup lama. Memanggilnya dengan penuh cinta. Setulus saat pertama kali berkenalan dengannya—Aksara.
Bait demi bait, paragraf demi paragraf aku lalui dengan sangat nikmat. Tanpa harus ada penghapus yang menemani. Semua mengalir begitu saja. Hingga pada akhir cerita aku tuliskan sebuah kalimat untuk beliau.
“... Ada Cinta di Kundalini... Terima kasih untukmu, yang sehangat peluk sahabat bagiku.”
Segera kudekati, kemudian emberikan beberapa lembar tulisan yang baru saja aku selesaikan. Beliau anya menerima lembar tersebut, tanpa membacanya. Matanya tajam menatapi mataku. Menelisik pada apa yang sedang dan sudah terjadi padaku. Kemudian tersenyum, dan memeluk hangat tubuhku. Membisikkan kata yang sama persis dengan yang telah aku tuliskan, meski belum membacanya.
“... Ada Cinta di Kundalini...“
Malang, -
.jpg)