Di warung kopi siang ini, saya mendengar percakapan yang sudah terlalu sering terdengar. Seseorang mengeluh tentang atasannya yang tidak adil. Di meja sebelah, sekelompok anak muda berdebat sengit tentang politik—suara mereka meninggi, penuh frustrasi. "Gubernur seharusnya lebih peduli pada rakyat kecil!" seru salah satu. "Presiden seharusnya mendengarkan aspirasi kami!" timpal yang lain.
Saya duduk sambil menyesap kopi, memikirkan kata yang sama-sama mereka gunakan: "seharusnya."
Berapa banyak energi yang kita habiskan untuk kata itu? Berapa banyak malam yang kita lewati dengan frustrasi karena dunia—atasan kita, rekan kerja, teman, pemimpin, bahkan idola kita—tidak bergerak sesuai dengan "seharusnya" kita?
"When we are no longer able to change a situation, we are challenged to change ourselves."
— Viktor Frankl
Marcus Aurelius, kaisar Romawi yang juga filsuf Stoic, pernah menulis dalam Meditations:
"You have power over your mind—not outside events. Realize this, and you will find strength."
Dia memahami sesuatu yang fundamental: kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan respons kita.
Saya teringat beberapa tahun lalu. Saya punya teman yang sering membatalkan janji di menit-menit terakhir. Setiap kali itu terjadi, saya marah. "Dia seharusnya lebih menghargai waktu saya," pikir saya. "Dia seharusnya lebih bertanggung jawab." Dsb.
Saya juga pernah begitu kecewa dengan seorang tokoh publik yang saya kagumi. Seseorang yang kata-katanya pernah menginspirasi saya. Tapi ketika dia membuat keputusan yang tidak sesuai, saya merasa dikhianati. "Dia seharusnya konsisten dengan nilai-nilainya," kira-kira begitu.
Tapi apa yang berubah dari kemarahan saya itu? Tidak ada. Teman saya tetap membatalkan janji. Tokoh itu tetap membuat keputusan berdasarkan pertimbangannya sendiri—yang mungkin tidak pernah saya pahami sepenuhnya. Dan saya? Saya yang menderita. Saya yang begadang memikirkan betapa tidak adilnya ini semua. Saya yang membawa beban itu sendirian.
We suffer more often in imagination than in reality."
— Seneca
Epictetus, filsuf Stoic lainnya, mengajarkan tentang dikotomi kendali: ada hal-hal yang berada dalam kendali kita, dan ada yang tidak. Pendapat orang lain tentang kita? Tidak dalam kendali kita. Keputusan yang diambil pemimpin? Tidak dalam kendali kita. Apakah teman kita akan menepati janji? Tidak dalam kendali kita.
Yang dalam kendali kita adalah: bagaimana kita merespons, apa yang kita pilih untuk dilakukan selanjutnya, batasan apa yang kita tetapkan.
Lalu saya mencoba untuk mulai menggeser "seharusnya" itu.
Bukan lagi "dia seharusnya" atau "mereka seharusnya", tapi "saya seharusnya".
Saya seharusnya lebih realistis tentang siapa mereka sebenarnya. Saya seharusnya tidak membuat rencana penting yang bergantung pada orang yang tidak bisa diandalkan. Saya seharusnya tidak menempatkan ekspektasi setinggi langit pada manusia biasa—bahkan jika mereka pemimpin atau tokoh publik. Saya seharusnya menetapkan batasan yang lebih jelas untuk diri saya sendiri.
Dan yang terjadi? Saya tidak lagi kecewa. Bukan karena mereka berubah—mereka tidak. Tapi karena saya tidak lagi menaruh ekspektasi pada tempat yang salah.
Mungkin ada yang akan bilang hal ini adalah sikap mengalah. Bahwa dengan tidak menuntut orang lain berubah, saya menjadi people pleaser. Bahwa kalau semua orang seperti ini (saya), tidak ada yang akan menuntut perubahan dari pemerintah atau pemimpin kita.
Sebentar... ini justru kebalikannya.
Meletakkan "seharusnya" pada diri sendiri bukan berarti kita berhenti bersuara atau berhenti menuntut akuntabilitas. Kita masih punya pendapat tentang kebijakan publik. Kita masih bisa mengkritik keputusan yang menurut saya keliru. Kita masih bisa memilih pemimpin yang lebih baik di Pilpres selanjutnya.
Yang berubah adalah: saya tidak lagi menyandera ketenangan jiwa saya pada keputusan mereka.
"Between stimulus and response there is a space. In that space is our power to choose our response. In our response lies our growth and our freedom."
— Viktor Frankl
Jean-Paul Sartre berkata bahwa manusia dikutuk untuk bebas—kita tidak punya pilihan selain membuat pilihan. Dan dalam setiap pilihan itu, kita mendefinisikan diri kita sendiri. Ketika saya memilih untuk tidak lagi membiarkan tindakan orang lain menentukan ketenangan saya, saya sedang mendefinisikan kembali siapa saya (?).
Saya melihat begitu banyak orang yang hidupnya seperti "boneka" hanya karena mengikuti tokoh tertentu. Ketika tokoh itu menang, mereka euforia. Ketika tokoh itu kalah atau melakukan kesalahan, mereka hancur. Mereka marah berhari-hari, berbulan-bulan. Seolah-olah kebahagiaan mereka sepenuhnya bergantung pada apa yang tokoh itu lakukan atau katakan.
"Dia seharusnya membela kami!" teriak mereka.
"Dia seharusnya tidak berkompromi!" protes mereka.
"Dia seharusnya sempurna sesuai dengan gambaran kami!"
Dan ketika tokoh itu—yang juga manusia dengan segala keterbatasannya—tidak memenuhi ekspektasi fantastis tersebut, para pendukungnya merasa dikhianati. Padahal sejak awal, mereka sendirilah yang menciptakan versi ideal yang tidak pernah ada.
Ini yang Plato peringatkan dalam Alegori Gua: kita sering jatuh cinta pada bayangan di dinding, bukan pada realitas itu sendiri.
Beberapa waktu lalu saya berbicara dengan seorang aktivis yang sudah puluhan tahun berjuang untuk perubahan sosial. Dia tampak santai sekali dan cenderung tenang. Tidak tampak kelelahan secara emosional. Ketika saya tanya rahasianya, dia bilang:
"Saya berjuang karena itu yang seharusnya saya lakukan, bukan karena saya mengharapkan hasil tertentu dalam waktu tertentu. Ketenangan saya tidak bergantung pada menang atau kalah dalam setiap pertarungan. Ketenangan saya datang dari tahu bahwa saya sudah melakukan yang terbaik dengan apa yang bisa saya kontrol."
Ini mengingatkan saya pada prinsip Karma Yoga dalam Bhagavad Gita: lakukan kewajibanmu tanpa terikat pada hasil. Bukan berarti kita tidak peduli pada hasil, tapi kita tidak menjadikan hasil itu sebagai syarat untuk kedamaian kita.
"Yesterday I was clever, so I wanted to change the world. Today I am wise, so I am changing myself."
— Rumi
Ketika saya bilang "saya seharusnya tidak terlalu bergantung secara emosional pada tokoh politik tertentu", itu bukan apatis. Itu adalah kedewasaan.
Ketika saya bilang "saya seharusnya lebih aktif di komunitas lokal saya daripada hanya mengeluh tentang pemerintah pusat", itu bukan menyerah. Itu adalah mengambil tanggung jawab untuk perubahan yang benar-benar bisa saya pengaruhi.
Ketika saya bilang "saya seharusnya lebih bijak dalam merespons berita politik yang membuat marah", itu bukan tentang menyenangkan orang lain. Itu tentang tidak membiarkan politik—yang memang penuh dengan kompromi dan ketidaksempurnaan—meracuni kesehatan mental saya.
Mungkin malam ini, setelah saya menyelesaikan tulisan ini saya akan tidur dengan tenang. Bukan karena semua orang di sekitar saya—atasan, teman, pemimpin negara—sudah menjadi seperti yang "seharusnya". Tapi karena saya sudah menjadi versi diri saya yang lebih baik—yang tidak lagi menyandera kebahagiaannya pada perubahan orang lain.
Saya masih peduli. Saya masih bersuara. Saya masih memilih dan mengkritik.
Tapi saya tidak lagi hidup dalam penjara ekspektasi yang tidak realistis terhadap manusia lain.
"The only person you are destined to become is the person you decide to be."
— Ralph Waldo Emerson
Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan menunggu orang lain berubah—apakah itu atasan, teman, atau bahkan presiden. Ketenangan bukan tentang dunia yang sempurna atau pemimpin yang ideal, tapi tentang diri kita yang utuh di tengah dunia yang tidak sempurna.
Kita bisa—dan memang harus—menuntut kebenaran dari mereka yang berkuasa. Tapi kita tidak harus menyerahkan kedamaian jiwa kita sebagai sandera dalam proses itu.
Meletakkan "seharusnya" pada diri sendiri bukan tentang menyalahkan diri sendiri atas kesalahan orang lain—termasuk kesalahan pemimpin atau sistem. Ini tentang mengambil tanggung jawab atas satu-satunya hal yang benar-benar bisa kita kontrol: respons kita, pilihan kita, batasan kita, keterlibatan kita yang sehat, dan pada akhirnya—kedamaian kita.
Kita bisa menuntut yang lebih baik dari dunia tanpa menjadikan diri kita korban dari ketidaksempurnaannya. Dan itu, saya rasa, adalah kebebasan yang sesungguhnya.
Malang, -
