Jangan lupa untuk meninggalkan komen dan share ke teman-teman kalian, ya!

CATATAN | Dari Leres Budi, Marquez, hingga Eka Kurniawan

 


Saya penyuka realisme magis, tapi selalu menyadarinya belakangan. Mungkin karena tidak pernah berani menilai apakah naskah atau karya tersebut masuk ke dalam ranah realisme magis, sebelum orang lain mengatakannya sebagai naskah realisme magis.

Hal ini konyol sebenarnya, tapi seru. Seolah memakan sesuatu secara rakus karena enak, dan kemudian seseorang datang lalu mengatakan bahwa yang saya makan adalah Soto. Sekonyol melinting tembakau, menghisap, menikmatinya, lantas ketika kehabisan bingung karena mau beli lagi tapi nggak tahu nama tembakaunya apa (?)

Pada satu saat saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa cerpen Leres Budi Santoso yang berjudul Kulihat Tengkorakmu di Sangiran adalah karya Realisme Magis. Tapi ternyata beberapa orang mengatakan tidak. Cerpen tersebut masih Realis (saja). Sejak saat itu saya kembali menjadi seorang penakut. Kembali membaca, menikmati, dan membatin saja. Tidak lebih dari itu.

Di kesempatan yang lain, seseorang menyodorkan 2 karya Marquez, Old Man dan Drowned Man. Dia mengatakan ini karya realisme magis. Saya melahapnya habis, dan mempercayai bahwa kedua tulisan tersebut adalah realisme magis.

Urutan hingga mempercayai ini bukan perkara saya paham benar tentang realisme magis. Justru saya baru mencari unsur-unsur magis dalam realitas cerita, setelah orang lain mendeklarasikan kepada saya bahwa kedua karya tersebut adalah realisme magis.

Beberapa kali terjadi seperti itu. Mencoba mencari karya-karya penulis semacam Jose Saramago, Murakami, hingga penulis Indonesia; Danarto. Bukan untuk mempelajari realisme magis, tapi malah sekedar untuk mendapatkan ekstase dari dahaga aliran tersebut–meski mengatakan realisme magis sebagai sebuah aliran sastra juga banyak yang menentang.

Kalau sekedar baca dari google tentang pengertian realisme magis, lantas mengabarkan kepada khalayak, saya pikir terlalu gegabah. Segegabah saya mengatakan satu jenis makanan adalah gado-gado, tapi tidak pernah tahu apa yang membedakan antara bumbu gado-gado dengan rujak sayur?

Bagi kebanyakan orang memang menikmati sebuah karya ya dengan menikmati yang ditampilkan di etalasenya saja. Tidak perlu tahu dapurnya. Tapi saya tidak bisa, dan memang saya suka begitu.

Kembali kepada persoalan keberanian yang selalu saya upayakan dengan banyak belajar. Pada satu kesempatan keberanian itu melompat terlalu jauh. Ketika di awal-awal semua orang mengatakan bahwa Cantik itu Luka-nya Eka Kurniawan adalah sebuah karya Realisme Magis, justru saya memberanikan diri untuk menulis tentang ketidaksepakatan atas label tersebut.

Dengan perasaan gagah saya mencoba untuk bersuara dengan dalih bahwa semua orang terlalu terbuai dengan pesona Dewi Ayu yang hidup setelah 21 tahun kematiannya. Kemudian secara serampangan orang mengatakan bahwa hal tersebut adalah peristiwa magis dalam realitas cerita, sehingga sah dikatakan sebagai karya realisme magis. Sayang sekali adegan selanjutnya tidak dimasukkan dalam parameter penilaian. Adegan tentang dimana penggembala dan orang kampung berlarian melihat kebangkitan Dewi Ayu. Dimana ketika rangkaian peristiwa dari kebangkitan Dewi Ayu dan kocar-kacirnya (berlarian) orang kampung, maka seharusnya adalah realitas kita. Realitas yang wajar di negara kita.

Sebuah keberanian yang pada akhirnya saya sesali. Bukan karena salah atau benar. Meski di satu sisi seharusnya saya merasa memenangkan perdebatan karena dalam satu kesempatan Eka Kurniawan sendiri mengatakan bahwa dirinya sendiri meragukan ke-realisme magis-an novel Cantik itu Luka.

“Dalam konteks ini justru saya menyesali keberanian yang terlalu pesat bertumbuh. Keberanian berdebat sebelum bisa berkarya, khususnya dalam ranah realisme magis pada saat itu. Sangat disayangkan sekali. Gak ilok, kata orang jawa.”

Malang, -

Post a Comment

Ratakiri Selamat datang di Whatsapp chat
Halo, apa kabar?
Klik di sini ...