Sore ini saya iseng mencoba mendownload aplikasi Dreame dan kemudian mencoba berselancar di sana.
"Hmm... sama aja kayak Wattpad, Fizzo Novel, Innovel, dsb..." satu hal yang terbersit pertama kali di pikiran saya.
Keisengan-pun menjadi semakin kuat untuk melihat-melihat beberapa platform sejenis dan kemudian berhenti pada satu cerita dengan 2.3 juta pembaca. Judulnya klise: "Dijodohkan dengan CEO Dingin." Plot bisa ditebak dalam lima detik pertama, karakter perempuan yang lemah, pria yang "bad boy but actually soft inside." Sesegera mungkin saya menutup layar dengan perasaan campur aduk—antara kagum dengan antusiasme pembaca muda, dan khawatir dengan masa depan sastra Indonesia.
Ini bukan tentang elitisme sastra. Ini tentang sesuatu yang lebih fundamental:
"Apakah kita sedang menyaksikan evolusi atau involusi dalam cara generasi muda Indonesia berinteraksi dengan kata-kata?"
Platform seperti Wattpad, Dreame, dsb. telah melakukan sesuatu yang revolusioner—mereka mendemokratisasi penulisan. Anak SMK di Malang bisa menulis cerita dan dibaca ribuan orang di seluruh nusantara. Tidak ada editor galak, tidak ada penerbit yang menolak, tidak ada standar akademis yang mengintimidasi. Setiap orang dengan smartphone bisa menjadi penulis. Secara prinsip, ini indah.
Tapi ada harga yang dibayar dari demokratisasi ini. Ketika semua orang bisa menulis, standar cenderung turun ke common denominator. Formula yang aman—romance dengan konflik yang mudah dipecahkan, karakter yang black-and-white, happy ending yang terprediksi—menjadi raja. Algoritma platform pun memperkuat ini: konten yang mendapat engagement tinggi akan lebih visible, dan yang mendapat engagement tinggi biasanya yang mudah dicerna, yang memberikan instant satisfaction.
Sial, generasi muda kita tumbuh dalam budaya instant gratification ini. Mereka terbiasa dengan dopamine hit dari likes dan comments. Kepuasan menulis datang bukan dari proses merangkai kata yang tepat atau mengeksplorasi kompleksitas jiwa manusia, tapi dari seberapa cepat chapter terakhir mereka mendapat ribuan like. Dan yang lebih mengerikan, mereka tidak tahu bahwa ada bentuk kepuasan lain yang lebih dalam.
Saya teringat ketika pertama kali membaca "Bumi Manusia" di bangku SMA. Butuh berhari-hari untuk menyelesaikannya, tidak karena tebal, tapi karena setiap paragraf Pramoedya memaksa saya berpikir, merenungkan, mempertanyakan asumsi-asumsi saya tentang keadilan dan kemanusiaan. Tidak ada instant gratification di sana, tapi ada sesuatu yang lebih berharga: transformasi cara pandang.
Hari ini, berapa banyak anak muda yang punya pengalaman semacam itu? Ketika kurikulum sastra di sekolah diajarkan dengan cara yang kering—hafalan tokoh, amanat moral yang dipaksakan, analisis struktural yang membosankan—tidak mengherankan jika mereka lari ke platform digital yang menawarkan hiburan instan.
Tapi saya tidak mau menjadi pesimist. Justru dalam situasi ini saya melihat peluang. Mungkin yang kita butuhkan bukanlah melarang atau mencemooh, tapi menggunakannya sebagai gateway. Konsep "gateway drug" yang saya pinjam dari dunia narkotika—tapi kali ini untuk hal yang positif.
Bayangkan jika ada strategi sistematis untuk memperkenalkan karya-karya yang secara bertahap "naik kelas." Semisal, mulai dari Andrea Hirata yang accessible tapi tetap punya depth, naik ke Dee Lestari yang blend antara populer dan filosofis, kemudian ke Eka Kurniawan yang lebih challenging, hingga akhirnya berani menjelajahi Ayu Utami atau bahkan Pramoedya.--terserah kalian bisa memasukkan nama-nama lain.
Ini bukan tentang menghakimi generasi muda karena menyukai bacaan populer. Kita semua pernah muda, pernah membaca novel-novel ringan sebelum akhirnya mengapresiasi karya yang lebih kompleks. Yang berbeda sekarang adalah skala dan intensitas paparan terhadap konten instant. Generasi sebelumnya masih punya waktu dan ruang untuk "naik kelas" secara alami. Generasi sekarang butuh guidance yang lebih deliberate.
Yang paling saya khawatirkan adalah jika pola ini berlanjut tanpa intervensi, kita akan punya generasi penulis yang technically competent—mereka tahu cara membangun plot, menciptakan tension, membuat pembaca terlibat—tapi miskin dalam hal yang membuat sastra benar-benar berharga: kemampuan menggali kedalaman pengalaman manusia, inovasi dalam penggunaan bahasa, keberanian mengeksplorasi tema-tema sulit dan ambigu.
Sastra Indonesia punya tradisi yang kaya—dari Chairil Anwar yang revolusioner, Pramoedya yang monumental, hingga Putu Wijaya yang eksperimental. Akan sangat disayangkan jika tradisi itu putus karena generasi penerus hanya terpapar pada formula-formula populer yang aman dan mudah.
Tapi saya tetap optimis. Kreativitas manusia selalu mencari jalan. Mungkin dari jutaan penulis muda di platform digital, akan muncul beberapa yang tidak puas dengan formula existing, yang mulai bereksperimen, yang berani mengambil risiko artistik. Mungkin platform digital justru akan melahirkan bentuk-bentuk sastra baru yang belum pernah kita bayangkan.
Yang kita butuhkan adalah kesadaran—dari pendidik, dari penerbit, dari platform digital itu sendiri—bahwa dengan kekuatan besar datang tanggung jawab besar. Mereka tidak hanya menghibur, tapi juga membentuk selera dan standar estetik generasi masa depan.
Generasi instant ini tidak harus menjadi generasi yang instant juga dalam hal kualitas karya. Dengan strategi yang tepat, mereka bisa menjadi generasi yang paling produktif dan inovatif dalam sejarah sastra Indonesia. Atau sebaliknya, mereka bisa menjadi generasi yang paling stagnan.
Semoga tidak bermanfaat, hehe...
Malang, -
